Review Ikan Kecil - Ossy Firstan



Judul: Ikan Kecil
Penulis: Ossy Firstan
Penyunting: Donna Widjajanto
Penyelaras Aksara: Yuliono
Perancang Sampul: Orkha Creative
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Sinopsis:

Pertanyaan “kapan hamil?” harus dijawab oleh pasangan suami-istri Celoisa dan Deas dengan senyuman selama 45 bulan. Akhirnya mereka bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan kehadiran “ikan kecil” di perut Celoisa. Namun, ternyata itu bukan akhir dari masalah kehidupan rumah tangga mereka.

Saat bayi Olei tumbuh perlahan, Loi dan Deas merasakan ada yang berbeda dari perkembangan anak mereka. Olei sulit sekali diajak berinteraksi. Sepertinya bayi itu hidup dalam dunianya sendiri. Setelah serangkaian tes dijalani Olei, vonis autis datang, Loi pun langsung diterjang rasa bersalah dan penyangkalan demi penyangkalan.

Ini kisah tentang “ikan” di perut yang lahir ke dunia. Tentang mendapatkan apa yang tak pernah diharapkan dan berusaha menerima apa yang tidak pernah diminta.

***

“Loi, kamu bisa aja nggak menerima kalau Olei autis. Tetapi jangan lupa, Olei itu anak kamu, anak kita. Jangan lupa kalau seorang anak nggak pernah meminta untuk dilahirkan, tapi orangtua yang sering meminta Tuhan biar bisa punya anak.”

Mengawali tahun 2020 dengan bacaan yang cukup menguras energi dan jiwa kemanusian yang selama ini terpendam.

Ikan kecil ada sebuah novel yang dituliskan oleh penulis untuk memperingati tentang hari Disabilitas Internasional. Novel yang launching pada tanggal 3 desember 2019 kemarin berhasil membuat aku berkaca pada diri sendiri.

Bagaimana jika nanti salah satu dari orang terdekatku memiliki kelebihan tetapi aku tak bisa menerimanya? Bagaimana jika aku yang lahir sebagai anak yang punya kelebihan tersebut? Dan begitu banyak tanya tentang bagaimana ketika aku menyusuri kisah “ikan kecil” ini. Tapi, ketika aku tiba di akhir cerita, untuk terlahir dengan kelebihan-kelebihan pun rasanya tak apa. Sebab sang pencipta sudah mengatur segalanya.

Dulu, sebelum aku membaca tentang anak yang mempunyai kelebihan pasti aneh rasanya. Bahkan mungkin sebagian menganggap itu aib dan sering di pandang sinis. Yaa.. mungkin dulu aku seperti itu. Tapi, perlahan ketika aku tau tentang pengidap-pengidap penyakit seperti itu aku sudah terbiasa. Mereka sama sepertiku yang membedakannya adalah mereka punya sedikit kelebihan yang diberikan oleh Tuhan.

Novel ini bercerita tentang sepasang suami istri yang bernama Celoisa dan Deas, yang sudah menunggu sejak lama kedatangan si buah hati. Tepat hampir 45 bulan pernikahan mereka, ikan kecil yang diharapkan oleh keluarga ini pun hadir. Betapa bahagia mereka karena sebentar lagi menjadi sempurna sebagai ayah dan ibu.

Semua berjalan baik-baik saja sampai pada waktu Celoisa melahirkan secara prematur. Kejanggalan demi kejanggalan mulai terasa. Setahun pertama tidak ada yang berbeda dari anak mereka yang bernama Olei. Tapi, di tahun berikutnya mereka merasakan bahwa ada yang berbeda di masa pertumbuhan Olei. Olei seolah mempunyai dunianya sendiri. Olei juga sangat susah diajak berinteraksi. Olei susah peka terhadap suara-suara disekitarnya. Kadang Olei juga lebih tertarik dengan suatu hal dan akan fokus berlama-lama dengan hal tersebut. Hingga, Loi dan Deas pun membawa anaknya ke rumah sakit, dan apa yang harus mereka terima? Olei di duga menginap penyakit autis. Dunia mereka rasanya seakan runtuh. Loi tidak percaya akan hal yang menimpa buah hatinya. Ia pun mulai menyalahkan diri sendiri karena tidak menjaga kehamilannya dengan baik.

Hari-hari yang dijalani oleh Loi dan Deas tak lagi sama. Loi terlalu sibuk dengan penyangkalan tentang anaknya yang mengidap autis, dan Deas berusaha membujuk istrinya untuk menerima keadaan yang sudah ditakdirkan untuk mereka.

Di cerita ini aku respect banget sama Deas, bagaimana caranya dia tetap menerima keadaan walaupun itu sulit. Bagaimana ia tetap merawat Olei disaat istrinya sibuk dengan penyangkalan dan abai terhadap Olei. Emosiku beneran di aduk-aduk oleh tingkah Loi yang seperti itu. Oke, mungkin aku belum ada di posisi dia tapi Olei juga nggak minta dilahirkan ke dunia untuk diabaikan kan? Huaaa sedih banget aseli.

Bagaimana dengan ending ceritanya? Apa Loi menerima keadaannya? Atau malah terus dengan penyangkalannya? Heheh baca sendiri deh dibukunya~

Novel ini aku rekomendasi untuk siapa saja yang akan menjadi istri, suami, ibu, ayah, atau siapapun manusia yang ingin menjadi manusia agar tau bahwa anak yang mengalami autis itu perlunya dirangkul bukan untuk dikasihani.

Ohhh banyak banget yang ingin aku tulis tapi aku bingung dong haha.

Pokoknya nanti kalau kamu baca buku ini kamu akan tahu bagaimana tingkah menyebalkannya Loi, bagaimana tingkah Deas dengan istrinya, mahasiswanya (btw, Deas adalah seorang dosen yang mempunyai mahasiswa bimbingan yang super aneh-aneh), dan bagaimana Deas dalam mengasuh Olei dan mencoba mengerti kegelisahan Celoisa. Di buku ini kamu juga akan tahu bagaimana kondisi seorang anak autis ketika sedang tantrum. Semua dirangkum dengan bahasa ringan dan sangat mudah dimengerti.

Sekian review dari aku. Semoga bisa berguna untuk kalian yang sedang mencari bacaan yang berbobot dan penuh pelajaran tentang kehidupan.

“Tetapi anak-anak seperti itu biasanya nggak suka kalau kita kasihanin lho, Dai. Mereka sukanya dianggap sama kayak kita. Mereka lebih suka diperlakukan biasa aja, diajak ngobrol dan bergaul seperti pada umumnya, bukan dikasihani.”

Posting Komentar