Review Arkais (Nona Teh dan Tuan Kopi) - Crowdstroia



Judul: Arkais (Nona Teh dan Tuan Kopi)
Penulis: Crowdstroia
Editor: Gita Romadhona dan Adhista
Penata Letak: Landi Ahmad
Desain Sampul: Dwi Annisa Anindhika
Penerbit: KataDepan
ISBN: 978-602-5713-68-2

Sinopsis:

Pekatnya kopi, seolah dalam tiap cangkir menciptakan cerita yang tak tertebak. Sama seperti dalam silamnya masa lalu Regen—si Tuan Kopi. Namun, berhadapan kembali dengan gelapnya masa lalu tak lantas membuatnya berubah pikiran untuk hidup bersama Varsha, si Nona Teh. Baginya, Varsha adalah alasan untuk tetap terjaga dari mimpi buruk.

Sepatnya secangkir teh membawa aroma tak terduga dalam tiap cangkir yang tertuang. Seperti yang Varsha temui dalam perjalanan mengenal Regen. Kebetulan-kebetulan yang merangkai cerita membawanya pada pertanyaan.

Bagaimana jika menjadi alasan seseorang untuk bahagia ternyata tak segampang yang dia duga?

Bagaimana jika alasan yang kau punya untuk bahagia ternyata hanya sekadar fana?

Ketika Nona Teh member ultimatum yang membuat hati Tuan Kopi kembali patah. Ketika kebetulan ternyata tak membawa akhir bahagia. Apa yang harus Tuan Kopi lakukan untuk melanjutkan hidup?

***

Bentar… hela napas dulu huftt…

Okee, jadi ulasan ini mungkin akan mengandung spoiler secara sadar ataupun nggak sadar dan untuk pembaca yang nggak suka terkena spoiler silahkan langsung di beli ataupun pinjam buku ini karena kalian nggak akan pernah menyesal pernah membaca buku ini.

Seperti yang telah aku ulas di postingan sebelumnya bahwa  novel ini bercerita tentang banyak kebetulan. Jika di buku “Parak” membahas tentang cerita masa lalu Varsha maka di buku “Arkais” akan membahas tentang masa lalu Regen.

Melihat sosok Regen dewasa mungkin kita akan berpikir bahwa masa lalunya biasa saja, sama seperti anak-anak pada umumnya. Tetapi siapa yang menyangka, Regen melalui masa kecilnya dengan sangat buruk. Aku nggak akan menyebutkan apa yang di alami oleh Regen tetapi ia mempunyai orang tua yang meninggalkannya ketika dia masih sangat kecil yang mengharuskannya tinggal bersama nenek yang hanya sekadar peduli. Kisah yang di alami Regen karena orangtuanya membuat ia menjadi anak kecil yang sangat menakutkan dan membahayakan. Faktor lingkungan yang membuat Regen pada akhirnya mengalami gangguan psikologi. Dan yapp, sepanjang cerita ini penulis akan menjabarkan satu persatu permaslahan yang terjadi ketika Regen kecil.

Hariawan Argentara, atau akrab di sapa Awan adalah sosok lelaki baik hati yang mau menolong Regen ketika keluarganya sendiri sudah tidak ambil pusing dengan keanehannya. Awan mempunyai hubungan dengan tantenya Regen sehingga ia berpikir kalau ia juga harus mengambil peran untuk membantu Regen. Dan semua kisah di mulai. Regen di angkat menjadi anak Awan dan Awan membawa Regen untuk berobat ke salah satu psikiater yang ada di negaranya.

Pertemuan Awan dengan Hartanti—Ibu dari Varsha sekaligus orang yang akan mengurus Regen untuk sembuh yang akan membawa Regen dan Varsha pada pertemuan dan kebetulan tak terduga. Bahwa sejak hari itu hidup mereka akan selalu terikat satu sama lain.

Jika kalian sudah pernah baca “Parak” pasti kalian nggak akan asing lagi dengan quotes “bahwa hakikat tertinggi dari mencintai adalah melepaskan” karena di “Arkais” kalian akan menemukan jawabannya. Gila yaa, kisah antara Awan dan Hartanti senyess itu. Sampai aku bertanya-tanya; apa memang ada cinta setulus itu? Mengorbankan keegoisan demi kebahagian banyak pihak walau kita tahu itu akan berakhir menyakitkan? Nggak ada cinta sebaik dan sejati itu tapi Awan dan Hartanti membuktikannya.

Menarik pertanyaan dari sinopsis di atas “Bagaimana jika menjadi alasan seseorang untuk bahagia ternyata tak segampang yang di duga?” aku akan menjawab; memang tidak gampang. Apalagi yang akan kita jadikan alasan untuk bahagia adalah manusia yang Fana. Seseorang yang bisa pergi kapanpun bahkan tanpa aba-aba terlebih dahulu. Jadi saat Regen menjadikan Varsha pusat dunianya untuk bahagia maka Varsha memilih untuk tidak menerima Regen bukan karena Varsha tidak mencintainya tapi karena ia begitu cinta sehingga ia perlu membuat Regen mengerti bahwa hakikat tertinggi dari cinta itu sendiri adalah melepaskan. Melepaskan seseorang untuk membahagiakan dirinya terlebih dahulu sebelum menambahkan kebahagian dari orang lain.

Novel ini berhasil memberikan sudut pandang dari cinta itu sendiri. Jujur, ini kedua kalinya aku membaca ulang dan masih nggak bosan dengan apa yang menjadi inti cerita ini.

Sekian ulasan singkat yang dapat aku bagikan karena untuk memahami lebih dalam aku menyarankan kalian untuk membaca sendiri buku ini.

”Serapuh itu manusia. Fana dan bisa lenyap dimakan waktu. Saya sama fananya seperti Awan dan ibu saya. Nggak selamanya saya bisa ada di sisi kamu. Nggak selamanya saya ada di dunia untuk jadi sumber kebahagianmu. Nggak selamanya saya stagnan kayak gini. Bisa jadi saya berubah dari waktu ke waktu, entah yang berubah itu kepribadian saya atau fisik saya. Kamu nggak bisa mencintai sesuatu yang fana dan mengharapkannya untuk tetap ada di sisi kamu selamanya.”

Posting Komentar