Review Dear Me - Ariestanabirah



Judul: Dear, Me

Penulis: Ariestanabirah

Penyunting: Diara Oso

Penyelaras Akhir: RN

Tata Sampul: Amalina

Tata Isi: Violetta

Penerbit: PING (Laksana Group)

***

Sinopsis:

Hidup menjomblo di usia yang semestinya sudah punya gandengan (minimal banget), dipecat dari perusaaan setelah 9 tahun mengabdi, ditambah krisis keuangan dan percaya diri. 

Zia berada di titik kritis dalam hidupnya.

Di saat terpuruk, Zia teringat pada impiannya semasa SMA. Juga… cinta pertamanya. Apa kabarnya dia?

Ia menulis surat, lalu mengirimkan surat itu untuk dirinya di lima belas tahun lalu. Sebuah perbuatan iseng nan konyol. 

Tapi, siapa tahu keajaiban apa yang menantinya?

***

Dear, Me sebuah novel yang berceritakan tentang Zia yang berumur 32 tahun, belum menikah dan baru sajah dipecat dari tempat biasanya ia bekerja selama 9 tahun. Menjalani passion yang bukan dirinya membuatnya susah mengatur segala sesuatu. Lalu, di tengah keterpurukannya, ia menuliskan surat untuk dirinya sendiri di masa lalu—15 tahun lalu. Siapa sangka, surat yang di alamatkan untuk dirinya sendiri di terima oleh Zia di masa lalu. Dan kisah tentang Zia pun dimulai.

Ketika pertama kali menerima surat dari pos yang nama penerimanya adalah sama seperti namanya Zia merasa tercengang, lalu ketika ia memulai membacanya ia mulai tidak percaya dengan apa isi surat tersebut. Karena apa yang dituliskan di surat tersebut sama persis seperti yang sedang ia rasakan. Passion menjadi komikus yang ia sukai tidak didukung oleh orangtuanya. Zia di masa depan sangatlah malang. Begitulah batinnya.

Setelah membaca isi surat tersebut, Zia mulai mengubah kebiasaannya dalam mencapai impiannya. Ia memiliki seorang teman yang bernama Nana. Nana si ceria yang diam-diam menyimpan seribu rahasia. Ada Addis teman sekelas yang antisosial yang disukai oleh Zia.


Kisah antara Zia, Nana, Addis dan teman-temannya yang lain sama seperti kisah anak SMA pada umumnya. Galau tentang impian dan cara menemukan passion mereka. Zia dan Addis mempunyai mimpi yang sama, sama-sama ingin menjadi komikus professional tapi lingkungan mereka menganggap cita-cita tersebut terlalu rendah di bandingkan menjadi pegawai negeri atau anak kesehatan. Penghasilan tak tetap, begitulah katanya. Tapi di cerita ini di gambarkan sebagaimana mestinya mimpi diperjuangkan. Mereka terus berusaha menggapai mimpi tersebut. Dan yang menarik, ada salah satu Guru Biologi bernama Rikamila yang terus menerus mendukung hobi anak-anak didiknya dan terus memberikan semangat dan motivasi untuk memperjuangkan mimpi tersebut.

Buku ini berisi tentang penyesalan, kesadaran dan keberanian dalam memulai segala sesuatu. Andai Zia tidak mendapatkan surat-surat di masa depan, apakah nasibnya akan tetap sama? Apakah kisah cintanya juga akan berakhir sama? Segala macam kata seandainya. Dengan kesadaran setelah membaca semua surat dari masa depan Zia bertekad untuk benar-benar melakukan sesuatu yang tidak akan ia sesali di kemudian hari.

Surat-surat dari Zia menjadi mantra tersendiri untuk saya, untuk menuliskan surat kepada saya di masa lalu dan masa depan. Sehingga nanti tak banyak penyelasan yang harus saya sesalkan.

Novel ini memberikan semangat untuk pembacanya untuk terus memperjuangkan impian.

Untuk kamu yang sedang mencari jati diri atau sudah menemukannya, mungkin kamu bisa membaca novel ini sebagai pengetahuan baru untuk dirimu. Satu penyelasan saya, ketika SMA dulu belum bisa menemukan passion yang sesuai. Tapi toh, semua sudah terjadi.

Terima kasih, sudah membaca ulasanku ini. Semoga bermanfaat untukmu ya!

“Meski bagi orang lain impian kalian adalah sampah atau remah-remah, kalian harus tetap membesarkan impian dengan pupuk kerja keras dan siraman doa. Suatu hari, bungkam kata-kata negatif orang lain menggunakan keberhasilan. Kala kalian sukses di bidang yang dianggap tidak mungkin oleh orang lain. Bilang pada mereka tidak ada yang tidak mungkin untuk yang tidak pernah menyerah.” 

Posting Komentar